Sekarang saya sedang berada di stase forensik. Belajar tentang forensik selalu mengingatkan saya
pada cerita kartun detective connan yang jadi favorit saya sampai
beberapa tahun yang lalu. Kesan utama dari film kartun satu ini adalah detective connan yang selalu bisa dapet petunjuk akan hal-hal yang tidak
orang lain perhatikan. Saya pikir connan bisa begitu kemungkinan karena salah
satu ilmu yang dia pelajari adalah ilmu forensik. Ilmu forensik yang saya lihat di film kartun satu ini antara lain tentang tanda-tanda penyebab kematian seseorang, karakteristik luka tembak jauh/dekat dan karakteristik racun-racun Oleh karena itu, saya jadi termotivasi untuk menikmati hal-hal tentang forensik. Dan itu juga buat saya tertarik untuk baca buku forensik yang saya punya.
Sejauh halaman per halaman buku forensik yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa di forensik yang paling penting adalah definisi-definisi dari tindak kejahatan sampai definisi istilah-istilah hukum yang berkaitan dengan kedokteran dan dasar-dasar hukumnya. Itu hapalannya. Tapi gak semuanya hapalan (ya iya lah), di forensik ada juga hal-hal yang harus direnungkan, dipahami dan dinalar kayak patofisiologinya, atau dasar teori ilmu-ilmu yang berhubungan. Tentang penalaran ini, saya jadi teringat dengan dosen saya yang mengatakan begini “ cobalah kalian kalo baca buku itu berpikir kenapa sih begini?, kenapa sih begitu?”. Artinya kita harus menjadikan apa yang kita baca bukan menjadi sebuah teori yang harus dihapal, tapi menjadi sebuah pemahaman yang harus dinalar dan dijadikan modal untuk ilmu selanjutnya. sebenarnya, Dosen ini adalah dosen favorit saya. Berhubung favorit, serasa semangat aja untuk ngelakuin apa yang dia bilang. Jadilah saya buat daftar pertanyaan dan jawabannya di sini tentang forensik dari buku ilmu forensik FKUI.
1. Teori: Paru-paru bayi yang lahir hidup itu lebih berat daripada paru-paru yang lahir sudah mati. Kenapa :Paat seorang bayi lahir, dan kemudian dia menangis sehingga paru-parunya mengembang dan hal ini dibarengi dengan pembuluh-pembuluh darah di paru yang menjadi aktif dan diisi oleh darah. Nah.... darah inilah yang buat paru-paru bayi yang lahir hidup itu lebih berat dari pada bayi yang tidak pernah hidup di dunia luar.
2. Teori: “Pada mayat, dalam waktu 2 jam akan terjadi kaku mayat. Kenapa:Setelah mati, tubuh masih mempunyai cadangan energi berupa glikogen di otot yang menghasilkan energi dan energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih ada ATP maka serabut otot (aktin dan myosin tetap lentur. Dan dalam waktu berkisar 2 jam cadangan energi ini habis sehingga kelenturan otot hilang. Kaku mayat ini dapat dijadikan sebagai petunjuk perkiraan waktu kematian. Jika belum ada kaku mayat, maka mayat ini diperkirakan baru mati 2 jam atau kurang. Jika sudah kaku maka mayat tersebut sudah meninggal 2 – 12 jam. Kaku mayat ini ada 2 yaitu yang mudah dilawan dan sukar dilawan. Jika kurang dari 4 jam (2-4 jam setelah kematian) kaku mayat mudah dilawan. Dalam arti sudah ada kaku sendi pada mayat namun masih bisa diluruskan atau ditekuk lebih dalam (difleksikan). Jika sudah lebih dari 4 jam (4 – 12 jam setelah mati klinis) maka kaku mayat dikatakan sukar dilawan. Kemudian kaku mayat ini dipertahankan sampai 12 jam kemudian dan baru menghilang.
3. Tentang lebam mayat. Teori :Dikatakan bahwa setelah mati, darah akan tetap cair karena endotel menghasilkan fibrinolisin dan karena adanya gravitasi timbul lebam yang terbentuk di bagian terbawah tubuh mayat dalam waktu 20-30 menit. Ternyata lebam mayat ini lebih cepat terbentuk pada mayat yang mati karena asfiksia (gangguan pertukaran udara pernapasan yang fatal) . Kenapa:Karena pada asfiksia terjadi hipoksemia (rendahnya kadar oksigen dalam darah) dan fibrinolisin terbentuk karena rangsangan oksigen yang rendah di dalam darah, sehingga lebih banyak fibrinolisin dan darah lebih cair dan lebam lebih mudah terbentuk
4. Teori: Ditemukan busa halus pada saluran napas korban gantung diri atau dijerat pada otopsi? Kenapa: pada fase dispneu dari asfiksia terjadi peningkatan aktivitas pernapasan disertai sekresi selaput lendir saluran napas atas.
5. Teori :Pada bab toksikologi, insektisida dibagi jadi golongan inhibitor kolinesterase, golongan hidrokarbon terklorinasi lain-lain. Kenapa :Karena salah satu alasannya adalah farmakodinamik dari kedua jenis insektisida ini berbeda. Hidrokarbon terklorinasi yang salah satu contohnya adalah DDT mempunyai efek stimulator SSP sedangkan pada keracunan kolinesterase inhibitor yang terdiri dari organofosfat dan karbamat terjadi depresi SSP.
Ini beberapa pertanyaan yang menurut saya cukup penting yang bisa saya share di sini. Saya rasa ini bermanfaat untuk saya dan juga menyebangkan untuk melakukannya dan saya berharap juga bisa bermanfaat untuk siapapun yang membaca ini.
Kalo kamu suka nyetet pertanyaan dan jawabannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar